
TL;DR
Ngabang adalah ibu kota Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yang berjarak sekitar 177 km dari Pontianak melalui jalur darat. Kota ini dibelah Sungai Landak dan menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, serta transportasi kabupaten. Di Ngabang berdiri Keraton Ismahayana Landak, yang diperkirakan menjadi keraton tertua di Kalimantan Barat dan merupakan peninggalan Kerajaan Landak yang sudah ada sejak abad ke-13.
Sungai Landak membelah Ngabang menjadi dua sisi: Ngabang Barat dan Ngabang Timur, dihubungkan oleh dua jembatan yang menjadi penanda kota ini. Di tepian sungai, deretan rumah panggung berjejer di sisi kanan dan kiri air. Bagi warga Kalimantan Barat, Ngabang adalah pusat Kabupaten Landak dalam arti yang paling konkret: tempat urusan administrasi diselesaikan, hasil bumi diperdagangkan, dan jejak kerajaan kuno masih bisa ditemukan hari ini.
Letak Ngabang dan Kondisi Wilayah
Ngabang adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Landak, yang terletak di bagian tengah Provinsi Kalimantan Barat. Posisinya di timur laut Pontianak, dengan jarak tempuh darat sekitar 177 km dan waktu perjalanan rata-rata 3 hingga 4 jam, tergantung kondisi jalan. Kota ini dilewati dua jalur vital: Jalan Trans Kalimantan dan Jalan Lintas Negara, yang menjadikan Ngabang sebagai titik simpul pergerakan orang dan barang di wilayah tengah Kalbar.
Luas wilayah Kecamatan Ngabang mencapai 1.148,10 km² dengan jumlah penduduk 78.309 jiwa berdasarkan data BPS Kabupaten Landak 2021. Sebagian besar tanahnya berupa dataran rendah berawa dengan ketinggian antara 50 hingga 250 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis ini membuat Ngabang relatif mudah dikembangkan sebagai kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi dibanding wilayah Landak yang lebih ke utara dan lebih berbukit.
Sejarah Ngabang dan Kerajaan Landak
Kabupaten Landak secara resmi terbentuk pada 4 Oktober 1999 melalui UU No. 55 Tahun 1999, hasil pemekaran dari wilayah yang kini bernama Kabupaten Mempawah. Jauh sebelum itu, Kerajaan Landak sudah berdiri sejak abad ke-13 dengan corak Hindu, dipimpin oleh raja-raja bergelar Ratu Sang Nata Pulang Pali selama tujuh generasi berturut-turut.
Titik perubahan besar datang pada masa Raden Ismahayana, yang berkuasa antara 1472 hingga 1542. Ia memeluk Islam dan menjadi sultan pertama Kerajaan Landak, sekaligus mengubah gelar kerajaan dari tradisi Hindu ke tradisi Islam. Nama Ismahayana kemudian diabadikan pada peninggalan paling ikonik di kota ini: Keraton Ismahayana Landak, yang oleh banyak catatan sejarah disebut sebagai keraton tertua di Kalimantan Barat.
Agama dan Budaya Masyarakat Ngabang
Komposisi penduduk Kecamatan Ngabang terbilang berbeda dari rata-rata wilayah di Kalimantan Barat. Berdasarkan data Kemendagri tahun 2021, mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen, dengan Katolik 38,56% dan Protestan 28,77%, sehingga total penganut Kristen mencapai 67,33%. Islam menjadi agama terbesar kedua dengan 30,43%, diikuti Buddha 1,96%, Konghucu 0,24%, dan Hindu 0,04%.
Jumlah tempat ibadah di kecamatan ini mencerminkan komposisi tersebut: 161 gereja Protestan, 53 gereja Katolik, 31 masjid, dan 5 vihara. Di balik angka-angka itu ada keseharian yang berjalan berdampingan tanpa banyak gesekan. Sebagian besar penduduk asli Ngabang adalah Suku Dayak Kanayatn, kelompok budaya terbesar di Kabupaten Landak yang dikenal dengan upacara adat Naik Dango, yaitu pesta syukur atas hasil panen padi yang dirayakan setiap tahun dan menjadi salah satu warisan budaya paling kental di wilayah ini.
Tempat Wisata di Ngabang dan Sekitarnya
Keraton Ismahayana Landak
Bangunan bercat kuning-hijau ini berdiri di Desa Raja, sekitar 1,5 km dari terminal bus Ngabang, menghadap Sungai Landak. Di dalamnya tersimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Landak, termasuk sebuah meriam di halaman depan yang konon melambangkan perjanjian damai antara Kerajaan Landak dan Kerajaan Sukadana. Diperkirakan sudah berdiri sejak 1275 M, keraton ini menjadi satu-satunya destinasi di mana Anda bisa menyentuh langsung lapisan sejarah tertua Kalimantan Barat.
Rumah Panjang Banua Pantu
Di Desa Tebedak, masih dalam wilayah Kecamatan Ngabang, berdiri satu-satunya longhouse atau rumah panjang yang ada di sekitar kota Ngabang: Rumah Panjang Banua Pantu. Rumah panjang adalah bentuk hunian tradisional Suku Dayak yang memanjang dan menampung banyak keluarga dalam satu atap. Keberadaannya di dalam kota menjadikannya salah satu titik paling mudah dijangkau untuk melihat arsitektur adat Dayak tanpa perlu masuk jauh ke pedalaman.
Air Terjun di Dekat Ngabang
Tiga air terjun bisa diakses dalam waktu singkat dari pusat kota. Air Terjun Rombo Katio adalah yang paling dekat, hanya 15 menit berkendara dari tengah Ngabang. Air Terjun Setegong berada di Desa Mungguk, sekitar 20 menit perjalanan, dan terletak di kawasan yang juga menjadi desa wisata dengan kolam alami Air Merah yang berwarna kemerahan karena kandungan mineral tanah di dasarnya. Yang lebih jauh sedikit adalah Air Terjun Pangaak di Dusun Sungai Durian, Desa Antan Raya, dengan tiga tingkatan dan suasana alam yang masih sepi.
Kuliner Khas Ngabang
Makanan di Ngabang mencerminkan perpaduan budaya Dayak dan masakan Kalimantan yang kaya rempah. Empat yang paling layak dicoba:
- Soup Mie: mie berbahan gandum dengan kuah gurih, irisan daging sapi, telur rebus, dan sayuran. Soup Mie Cucu di kawasan Hilir adalah salah satu warung yang paling dikenal warga lokal.
- Kepala ikan bumbu kunyit: ikan kakap dimasak dengan santan, kunyit, cabai, dan rempah segar. Dagingnya lembut, kuahnya kaya, dan jadi andalan banyak rumah makan di kota ini.
- Daun ubi tumbuk: masakan khas Dayak dari daun singkong muda yang ditumbuk dan dimasak dengan santan, lengkuas, dan cabai. Rasanya gurih dan cocok dimakan dengan nasi hangat.
- Apam pinang ketan susu: versi lokal martabak dengan balutan ketan yang disiram susu kental manis. Bisa ditemukan di sepanjang Jalan Proklamasi dengan harga sekitar Rp10.000–15.000 per porsi.
Cara ke Ngabang dari Pontianak
Dari Pontianak, satu-satunya pilihan menuju Ngabang adalah jalur darat karena belum ada penerbangan langsung. Jaraknya sekitar 177 km, dan dengan kondisi jalan yang terus membaik, termasuk selesainya Jembatan Nahaya beberapa tahun lalu, waktu perjalanan kini bisa dipangkas menjadi sekitar 3 jam dari yang sebelumnya bisa mencapai 4–5 jam.
Bus antarkota dari Terminal Pontianak menuju Ngabang tersedia setiap hari. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, rute ini melewati Mandor. Tidak ada salahnya berhenti sebentar di sana untuk mengunjungi Taman Makam Mandor, situs peringatan korban pendudukan Jepang di Kalimantan Barat yang sering luput dari rencana perjalanan wisatawan luar daerah.
Ngabang terus berkembang sebagai pusat kabupaten yang aktif: ada pilihan hotel di sepanjang Jalan Raya Ngabang dengan tarif terjangkau, pasar tradisional yang ramai di pagi hari, dan akses ke kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Landak yang masing-masing punya daya tariknya sendiri. Dari sini pula perjalanan ke perbatasan Malaysia atau ke pedalaman Kalimantan Barat bisa dimulai.